tentang negara kepulauan

Negara kepulauan. tersebutlah sebuah nama negara yang belakangan mulai terkenal di level internasional.

Bukan, bukan karena ilmuwan yang berhasil menciptakan antivirus, atau para atlet yang memenangkan medali emas berturut-turut, atau banyaknya musisi dari sana yang berhasil bersaing di level internasional. Ia mulai terkenal karena, sebagai pasar industri, lahannya sangat hijau beberapa tahun belakangan, dimana kaum menengah semakin naik jumlahnya, yaitu hasil dari kaum bawah yang “naik kelas” atau kaum atas yang “turun kelas” karena permasalahan ekonomi lokal maupun internasional yang diluar pengetahuan saya. Para pebisnis internasional yang menyadari hal tersebut lantas tidak begitu saja melewatkan kesempatan emas ini. Ya, negara kepulauan yang terletak di kawasan Asia Tenggara (menurut geografis, yang juga ditentukan oleh Herodotus, bagi yang ngga tau), akhirnya mulai terkenal, bukan karena apa yang dimiliki di dalamnya, namun apa yang sangat menggiurkan ditawarkan dari dalamnya, dimana hal itu berpusat kepada para SDMnya (saya tidak akan membahas kebodohan bangsa negeri tersebut dalam eksploitasi SDA yang tidak manusiawi, bisa di cek salah satunya di sini).

SDM negeri tersebut murah, dan bodoh.

Murah karena apabila anda tinggal di ibukota negeri kepulauan tersebut, pastilah anda menyadari pusat pertokoan dan perbelanjaan hampir seluruhnya dipenuhi oleh brand dan perusahaan asing, dimana para pekerjanya hampir seluruhnya adalah pribumi dari negeri tersebut. Hanya ada beberapa kota yang senantiasa eksis dengan produk lokal, dengan target konsumen ya… turis. Beberapa negara yang memiliki SDM murah saingan terberat dari negeri kepulauan ini adalah negeri yang khas dengan hewan Sapi serta negeri tirai bambu. Ketiganya saat ini sedang memasuki fase “rat race” yang entah, siapa yang akan menjadi pemenangnya. Toh, saya juga mengingat tentang kalimat lucu ini :

“The trouble with the rat race is that even if you win, you’re still a rat.” — Lily Tomlin, People magazine (26 Dec 1977).

Bodoh karena begitu mudahnya konsumen negeri tersebut terlena akan sesuatu yang berasal dari luar. Tentu saja, tidak semua “luar” bisa seenaknya di sini. Ada beberapa negara “luar” yang tidak begitu bisa mengeluarkan taringnya di sini seperti negara yang menempel di ujung barat negeri tersebut, serta yang dulu adalah bagian dari negeri tersebut, namun telah memisahkan diri. Selebihnya? saya rasa masih sangat mungkin untuk memulai sesuatu / membuka peluang bisnis apapun. Tinggal memberikan label “imported from … ” atau “originally from …” atau “product of …” dan, selamat, anda berhasil “menipu” sebagian besar para penyumbang devisa negara di negeri kepulauan tersebut.

Ah, memang paling enak itu adalah masa-masa sebelum masa perkuliahan dimulai, dimana segalanya terasa sempit dan lokal. Dimana masalah terbesar adalah ujian akhir nasional yang terasa lebih menyeramkan daripada cabut gigi.

Posted in Blog | Tagged , , , | Leave a comment

something about dreams

it’s almost 23. Time was 24 hours, and it still 24 hours.

i live, for, by, and with my dreams inside me. the dreams made me.

every heart beats, every miles, every hearts, every eyes, every lips, every hands, every scars,

all were, and will always be dedicated to my dreams.

like a shade of moon in the darkest place, there will always be hope to every dream.

from each dreams that i share to earthlings,

i’ve learned something important.

no one will get interested in your dreams, your visions, or anything that seems delusional.

for some, it shines bright like an opened window in a bright morning

for some, it means nothing. simply nothing.

i’ve learned how to walk my path again, this time.

do it yourself.

it’s just, the statement of “you need people in order to realize your dreams” is not as literal as it may seems. one should have a deep way of understanding it or fall into the abyss.

like a pathway created by lights,

just walk.

do and walk. if there are people following you, there will be. if there isn’t any, so be it. at least you’ve shined the way.

just walk in the park. have faith.

Posted in Blog, Life Lessons | Tagged , , | Leave a comment

halloween?

belum pernah gue merayakan halloween yang seperti ini :

halowin

sumber

sedikit informasi aja, halloween itu berasal dari :

All Hallows day, All Saints day, All Souls day, atau Hallowmas, atau Triduum, yang merupakan bagian dari perayaan umat Katolik sedunia (terutama di continent barat). Bagi yang memiliki agama, terutama agama Katolik, mungkin pernah / sudah nggak asing lagi mendengar kata tersebut (atau nggak pernah?). Gue sih, katolik (terakhir gua inget), dan… nggak pernah.

Padahal, intinya, perayaan tersebut adalah perayaan memeringati orang-orang yang telah meninggal. Dimulai dari All Hallow’s eve (peringatan malam sebelum Hari peringatan Santo-Santa), yang menurut kultur barat (Eropa dan Amerika lebih tepatnya), dimensi antara duniawi dengan afterlife mengencer. Alhasil, muncullah beberapa kepercayaan seperti trick or treat, penggunaan kostum dan topeng, dan sebagainya, untuk memeringati para orang yang telah meninggal. Padahal sebetulnya untuk Santo-Santa saja, dari kultur umat Katolik. Hari setelahnya, baru kita (awas lo jawab kita…? looo aja kaleee) memasuki masa All Hallows day, yang berarti peringatan Santo-Santa atau lebih tepatnya martir umat Kristiani. Baru pada hari terakhir, kita masuk kepada All Souls day, dimana hari tersebut lebih umum. Yaitu, merayakan (atau memeringati) orang-orang terkasih yang telah meninggal dunia, bisa siapa saja. In short, semua orang yang mau kita doakan, tentunya yang sudah meninggal. Demikianlah selesai masa Triduum yang dibuat kultur barat tersebut.

Sebagai orang Timur yang seringkali terima mentah kultur Barat, ada fenomena yang hampir dilakoni seluruh masyarakat urban dunia, yang berasal kultur Barat, yaitu Halloween. Singkatnya, halloween adalah All Hallows’ eve. Namun apabila kita menyebut / mendengar kata Halloween, hampir pasti kegiatan yang akan terasosiasikan adalah kegiatan seperti foto yang saya lampirkan di atas. Well, inilah potret kehidupan urban kita hari ini. Sebagai orang Indonesia, kita seringkali menikmati apa saja yang kita terima dari luar (mostly dari Barat, yang sisanya menyusul) tanpa kita cerna / kita pertanyakan asal-muasal kultur yang sedang kita jalani / banggakan di media sosial tersebut.

Lha ngapain juga gue kerajinan tau soal beginian? yap. Was expecting such question!

Nggak apa, gue juga cuma mau bagi kok. Setidaknya kita tau, kalo lagi-lagi kita terima beres apa yang sudah dibuat / dimulai oleh manusia-manusia di belahan bumi lain. Boleh bangga, boleh sedih. Karena sedikit sekali kultur kita yang terekspos masyarakat urban dunia hari ini. Entah karena memang kurang menarik, atau kita memang kurang bisa menghargai apapun yang berasal dari dalam rumah sendiri. Maybe that’s why sometimes public places are much interesting than our own home? Gue sendiri bahkan pernah memertanyakan itu dalam hati gua kok! Malah, budaya yang justru bikin malu (gue sih malu, meskipun itu bagian dari hidup gua sehari-hari), terekspos secara telanjang di media sosial. Seperti di bawah ini :

Untungnya, beberapa perayaan keagamaan lainnya masih belum terlalu tercampur efek duniawi di Indonesia (atau ruginya? tergantung perspektif!) seperti Natal (Natal di Amerika atau di Jepang hampir tidak pernah dirayakan masyarakat urban dengan sistem tradisional seperti ke gereja atau sebagainya, namun lebih kepada perayaan seperti Halloween, identik dengan pohon natal, kostum sinterklas, minum bir, dsb. ), Paskah (sama, di kedua negara tersebut atau mungkin negara barat lainnya, Paskah hanya identik dengan kelinci paskah dan telur paskah, bukan passover yang berarti peringatan hari kebangkitan Tuhan Yesus Kristus, atau kebebasan umat Israel dari perbudakan Mesir menurut umat Kristiani). Di Indonesia, dua kegiatan tersebut masih sangat identik dengan kegiatan keagamaan. Untung? Rugi? Mungkin bukan rugi ya, tapi KetinggalanYour choice.

Back to Halloween, Halloween selalu identik dengan mengenakan kostum / topeng untuk mengelabui penampilan kita yang sebenarnya. Bisa jadi kita ingin hidup sebagai profesi tertentu / mahkluk tertentu yang selama ini kita idam-idamkan, atau kita ingin mengejek sejarah / profesi tertentu. Intinya, kita ingin terlihat bukan sebagai kita untuk suatu momen dalam satu malam. Umumnya, kostum atau topeng yang dikenakan pasti mengacu ke sesuatu yang menyeramkan / terasosiasikan dengan imaji orang modern terhadap iblis / hantu, berikutnya kostum profesi-profesi tertentu seperti polisi, pemadam kebakaran, pramuniaga, siswa-siswi sekolah dasar, dan sebagainya, seperti beberapa contoh foto di bawah ini :

halloween

sumber

gak mungkin dong ada polisi model begini?

gak mungkin dong ada polisi model begini?

sumber

Yah, gue sih sekali lagi, belom pernah ikut pesta Halloween sekalipun, walau sebenarnya sangat penasaran. Belom menyempatkan diri saja sih lebih tepatnya… Mungkin tahun depan gue bisa hadir ke salah satu, amin!

Tapi kalo menurut pendapat gua, mengapa orang perlu repot-repot berdandan untuk Halloween? Selain bagian dari sisi positif kultur urban ini yakni memberikan nafkah bagi para make up artists, fotografer, event organizer, para pemilik klub, ya… kenapa harus repot-repot? Karena kadangkala, gue merasa takut terhadap diri gua sendiri. Beberapa alter ego yang gue yakin setiap orang punya. Yang seringkali muncul, sering memberikan efek negatif terhadap diri kita, seringkali kita kutuk karena tidak mencerminkan diri kita yang sebenarnya, sering membawa musibah bagi diri kita atau orang di sekeliling kita, ya… diri kita. Tanpa apa-apa.

contact lenses by photoshop

contact lenses by photoshop

..

.

serius amat! Happy Halloween all! *ambruk*

Posted in Blog, Invaluable | Tagged , , , , , , , , | Leave a comment

i still can’t say goodbye

no matter how many tears i cried

no matter how years go by,

i still can’t say goodbye.

(P.S. this is not a mourning post for my father. He’s still fat and healthy. i’m missing my young and golden days, my school days… post graduate syndrome).

Posted in Blog | Tagged , , , , , , , , | Leave a comment

tentang keras dan lunak

“Sekarang, lihat dan katakan apakah kamu dapat melihat lidahku,” kata Chang Cong, menundukkan dagunya dengan susah payah.

“Ya.”

“Apakah kamu melihat gigiku?”

“Tidak. Tidak ada gigi yang tersisa.”

“Kamu tahu kenapa?” tanya Chang Cong.

“Aku rasa…” ia lalu berpikir sejenak sebelum melanjutkan, “lidah tetap ada karena lunak. Gigi rontok karena mereka keras. Benar tidak?”

“Ya, anakku,” angguk Chang Cong. “Itulah kebijaksanaan di dunia. Aku tidak punya apa-apa lagi untuk diajarkan kepadamu.”

Di kemudian hari, sang murid Chang Cong tersebut mengatakan : “Tidak ada sesuatu pun di dunia ini yang selunak air. Namun tidak ada yang mengunggulinya dalam mengalahkan yang keras. Yang lunak mengalahkan yang keras dan yang lembut mengalahkan yang kuat. Setiap orang tahu itu, tapi sedikit saja yang mempraktikkannya.”

Nama murid itu adalah Lao Tzu.

(dikutip dari Shuo Yuan, 1 SM. Halaman xi-xii buku Kisah-Kisah Kebijaksanaan China Klasik terbitan Gramedia, Michael C.Tang)

water stone

Posted in Life Lessons | Tagged , , , , , , , | Leave a comment

start all over again

i’m close to the end, and i’m ready to start all over again.

if not now, when?

i’ve learned much from these 4 years!

through sacrifices, perseverances, and mistakes,

i’m on my way to be a Warrior of myself

of my village, of my childhood, of my future,

and for the Universe.

With all i have, let’s do something good!

Posted in Blog | Tagged , , , | Leave a comment

advice?

i have one question that really irritates me this morning.

“do we really need advices?”

looking back on my journeys, since the day i can really think what the purpose of me being alive, until now. I have never really listened to any of the advices given. I still tried what i think it’s best for me, or atleast, i think it’s my inner voices’.

And do you really believe that there are people who listen to advices? or are you misunderstand listen with “just agree at that time”?

some people are really good at lying. They act like they listen and they agreed to us. or.. it might be you, yourself, who’ve been lying all the time.

i’ve been lying.

Posted in Blog, Life Lessons | Tagged , , , , , | Leave a comment